Malam yang sunyi. Bloggers, kembali lagi.
Mungkin kamu akan bertanya, kenapa aku menulis ini semua? Jika kamu mengira, karena aku ingin mencuri perhatianmu tentu tidak. Lalu jika kamu mengira, aku ingin mendramatisir keadaan itupun tidak. Sama sekali tidak.
Aku menulis semua ini hanya karena rindu. Tak pernahkah kamu merasakannya juga? Aku harap kamu sempat merindukanku walau hanya semalam. Setidaknya kamu ingat bagaimana aku tertawa
lalu menangis. Setidaknya kamu ingat bagaimana susahnya berusaha dan mudahnya menyerah.
Manis. Cinta yang tumbuh dibawah atap sekolah. Cinta yang terus tumbuh hanya karena memandang dari jauh. Cinta yang terus tumbuh ketika kita bertukar sapa dan senyum. Cinta yang terus tumbuh karena pipiku merona setiap kali mendengar namamu. Manis. Aku masih bisa merasakannya walaupun hanya sedikit mengingatnya.
Aku masih ingat betapa lucunya saat pertama kali aku melihatmu. Kita terlihat canggung. Lalu saling tersenyum sesudahnya.
Aku juga masih ingat betapa indahnya hujan pada saat itu. kamu terus melajukan motor dengan cepat agar aku tidak lama terkena hujan, mungkin. Aku hanya bisa bersembunyi sambil dibalik punggungmu. Kamu nggak tau, seberapa banyak aku tersenyum saat itu.
****
Aku tidak peduli, apakah aku cinta pertamamu atau bukan. Aku menyimpan memori dalam hidupmu atau tidak. Yang aku tau aku hanya merasakannya. Cukup aku.
Kamu juga bukan pacar pertama atau keduaku. Tapi percayalah. Kamu membuatku mengenal banyak hal untuk pertama kalinya. Kamu membuat aku belajar untuk pertama kalinya.
Kamu orang pertama yang membuatku merasa berharga dan merasa dihargai. Kamu membuat aku merasa bahwa aku adalah seseorang yang patut diperjuangkan. Bukan orang yang selalu menunggu, menanti bahkan meminta.
***
Maaf aku sempat membuatmu muak. Dengan sikapku yang kekanak-kanakan. Yang sering mengeluh, yang sering berdrama dengan segala masalah (baper). Kau selalu mengingatkanku. Dan lagi aku terlambat menyadarinya. Aku tau aku salah, tapi siapa yang peduli saat itu. Yang aku tau hanya, cinta itu menyakitkan ketika kamu pergi entah saat ini ataupun nanti. Kadang aku pun hanya tertawa bila mengingatnya. Perjalanan kita amat sangat lucu ternyata.
Aku paham kita memulai dengan cara yang salah. Entah aku, atau kamu. Tapi aku tak ingin menyalahkan siapapun, karena untuk masalah perasaan semua orang akan merasa benar. Meskipun penuh kebohongan dan ketidakpedulian. Cukup aku saja yang tau maksud semuanya.
Perjalanan memang kadang membuat aku terbang lalu jatuh. Dan terimakasih juga kamu telah menjadi perjalananku. Hidup kadang terasa manis seperti kue yang sering aku makan tapi ada masanya terasa pahit sama seperti aku yg tidak sengaja menyesap ampas kopi. Dan kamu telah menjadi keduanya di saat yang bersamaan. Sekali lagi, terimakasih. Untuk pernah hadir lalu pergi. Dan untuk sempat memulai lalu mengakhiri.
Hmm.
Aku tadi bilang bahwa aku merindukanmu, tapi setelah aku menulis ini semuanya aku tak lagi merasakannya. Aku sedang tersenyum,percayalah. Aku bahagia. Tak perlu aku yang merindukanmu lagi. Tugasku sudah cukup tugasku kini pergi lalu menghilang. Untuk tak saling mengenal akan lebih baik, mungkin? Hahaha aku bercanda. Aku tidak kekanak-kanakan lagi aku hanya berharap aku dan kamu baik baik saja. Kita bahagia bersama, di jalan yang berbeda.
Dan harapan terakhirku adalah suatu saat aku dapat bertemu kamu, dengan senyuman. Tak ada lagi kecanggungan. Lalu berbincang. Seperti apa yang di lakukan bersama 'teman yang lama sudah tak jumpa'.
Untuk kamu.
Aku merasa cukup. Dan aku pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar