Rabu, 17 Februari 2016

Seseorang yang ku kagumi

Malam ini aku terbaring kembali sambil mendengar lagu-lagu kesayanganku, lagu yang bisa dibilang moodbooster aku bangetlah.
Malam ini, dia (seseorang yang ku kagumi) kembali menghubungiku. Dia memanggilku dengan sebutan nama belakangku, mulailah percakapan kita percakapan yang tiada henti-hentinya yang selalu membuatku, bahagia. Awalnya setelah chattingan sama dia aku biasa saja seperti layaknya teman biasa yaa, biasa. Namun, makin kesini rasa itu semakin menjadi-jadi. Aku sendiri tidak mengerti dengan perasaanku seperti ini yang mulanya aku menyukai temannya sendiri, namun sejak dia pergi (temannya doi) dia si doi yang selalu ada buatku datang membuatku merasa nyaman. Aku pun mengerti dia tentu belum bisa melupakan mantannya yang sudah terjalin hubungan selama bertahun tahun lamanya. Pada suatu malam, aku sangat mengingatnya. Aku dan dia teleponan via line, disitu dia banyak bercerita tentang kenangam-kenangan mereka dulu, bagaimana sikap mantannya, mantannya, mantannya, dan mantannya. Responku sangat yah hmm seolah-olah aku mendukungnya padahal jauh di lubuk hati retak rasanya.
Begini saja, cewek mana yang tidak sakit hati setelah mendengar cowok yang disukai malah membahas mantannya? Sakit? Ya jangan ditanya lagi, sudah tentu pahit rasanya.
Sebenarnya, aku capek dihantui perasaan seperti ini. Aku capek harus bersikap seakan semuanya baik-baik saja yang nyatanya jauh dari segala kenyataan itu. Aku mencintainya, namun apa yang harus ku perbuat? Dia berfikir kalau aku masih menyukai temannya.
Kembali ke; Dia.
Dia sangat jago membuat bibir ini tersenyum manis, sangat pandai membuat hati yang luka menjadi baik kembali, sangat hebat membuat lawakan yang selalu bikin tertawa, dengannya; aku tidak pernah dibuat sedih.
Dia tidak melihat betapa aku sangat mengaguminya sampai perasaan tersebut berubah menjadi perasaan sayang, cinta.
Aku tidak mengerti aku tidak tau apa yang harus ku lakukan, apa yang harus ku perbuat agar dia mengerti semuanya. Namun, kuyakin dengan apapun usahaku untuk membuatnya mengerti dia pasti tidak dapat dan tidak akan bisa mengerti segala kenyataan yang ada tentang perasaanku ini.
Aku berfikir. Apa yang salah dengan ini? Apa aku salah memiliki perasaan seperti ini?
Sejujurnya, cinta tak bisa disalahkan. Cinta datang seperti layaknya air yang mengalir, jalan begitu saja. Layaknya jelangkung, yang datang tak diundang pulang tak diantar. Tidak ada yang menginginkan perasaan seperti ini. Tapi sesungguhnya inilah kenyataannya, bahwa; aku nyaman bersamanya; mencintainya. Tidak peduli dengan balasannya, aku masih bisa menyimpannya dengan sangat baik sampai suatu saat semua yang telah kusimpan akan terbongkar. Entah itu akan terbuka pada saat kita berpisah ataupun saling tak mengenal satu sama lain.
Aku mulai memahami satu hal lagi, yang sepertinya hubungan kami tidak akan bertahan lama walau hanya hubungan pertemanan biasa. Sehingga pada saat dia lulus dari sekolahan, pada saat itu juga hubungan kami putus.
"Do i need go to hell?"
Layaknya daun yang berada dihalaman yang sangat tandus yang tak lama akan rapuh, seperti hatiku ini.
Cukup.
Kamu terlalu istimewa untuk dikhayalkan.
Walaupun tak seberapa, aku tetap bahagia.
Asalkan selalu didekatmu.
Entah itu via HP ataupun bertemu.
Entah itu hubungan kita hanya sekedar pertemanan biasa atau bahkan lebih.
Intinya, aku menyayangimu.
Walau bagaimanapun status hubungan kita.
.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan serakah

Hai, selamat pagi/siang/sore/malam.  Aku nulis ini dimalam hari. Jadi, selamat malam para galauers. Aku mau cerita..... Jadi gini... ...