Teruntuk kamu. Yang terlalu indah untuk dikhayalkan.
Sebutan itu tak untukmu lagi. Saat ini dan selamanya, aku harap kamu tetap yang terindah namun bukan untuk dikhayalkan. Saat ini dan selamanya kamu nyata untuk ku genggam. Saat ini dan selamanya kamu nyata untuk ku rangkul. Saat ini dan selamanya kamu nyata untuk ku curahkan isi hati. Saat ini dan selamanya kamu nyata untukku jadikan satu satunya. Saat ini dan selamanya kamu
nyata untuk ku jadikan masa depan.
Aku telah melalui banyak jalan rusak untuk sampai ke ujung jalan, tempatmu dan tempatku untuk tinggal. Disaat lelah, aku beristirahat ke tempat lain, tempat orang lain tinggal. Aku cukup nyaman berada disana, aku diperlakukan seperti putri, saking nyamannya, aku sampai lupa kalau aku harus terus melanjutkan perjalanan sampai ke tujuan. Namun, disaat aku bersemangat jalan, kamu berhenti. Entah untuk sementara atau selamanya.
Aku sudah sampai ke tujuan, tempatku dan tempatmu untuk tinggal. Awalnya aku pikir tujuanku ini tempat kita tinggal. Namun, di tengah jalan disaat semangatku untuk sampai ke sini sedang tinggi-tingginya, kamu malah berbelok ke jalan lain. Pikiranku tentu baik-baik saja tentangmu, ku pikir kamu lelah ingin beristirahat sebentar ditempat lain. Ternyata salah. Tujuanmu berbeda.
Aku bahagia ditempatku saat itu walau tanpa dirimu. Aku menemukan teman baru untuk menggantikan posisimu tinggal bersama ditempat ini.
Namun, setelah lama kamu kudiamkan. Kamu berusaha lagi mencari alamat tempat ini. Tanpa disadari, kamu lupa kalau posisimu telah digantikan. Kamu merengek, memohon maaf dan kesempatan.
Bodohnya, aku selalu terima.
Jahatnya, aku meninggalkan tempat ini lalu mencari tempat lain denganmu, meninggalkannya sendirian. Meninggalkannya yang menemaniku disaat kehadiranmumu tak kunjung datang.
Dari saat itu aku belajar bahwa sekuat apapun usaha kita untuk melupakan dan mencari penggantinya tak akan bisa menjadikan dia nomor satu dihati kita. Walau kehadirannya tak seperti keberadaan dia yang selalu ada disisi kita. Perasaan tak dapat diubah. Kalaupun bisa, bakal susah nantinya.
Cuma ada satu pemilik, tak ada dua apalagi tiga. Setiap sesuatu yang pergi akan kembali pada pemiliknya.
Yah. Sampai saat ini kamu masih berada dalam tempat tinggal kita. Masih bercengkrama dengan siituasi yang canggung.
Eh tak lagi canggung saat ini.
Kamu dan aku sudah menjadi sesuatu yang sulit dipisahkan sekarang. Kamu bukan lagi "tanda tanya" untukku, begitu juga denganmu, aku bukan lagi "koma" untukmu, melainkan "titik". Aku sama kamu cuma harus berhenti sampai diakhir, bersama. Bukan untuk dilanjutkan kehalaman baru, tempat baru, dan orang baru. Tidak. Ini kita. Tidak ada dia diantara kita. Tidak akan pernah ada. Aku bertaruh.
Teruntuk kamu. Simpan smartphonemu itu. Aku tidak butuh jejaring sosial tempatmu untuk memamerkan segalanya.
Tidak perlu foto berdua untuk diunggah di instagram. Aku hanya perlu foto berdua di buku sah kita.
Tidak perlu mention-mentionan mesra di twitter atau bbm.
Sebenarnya semua tidak perlu seperti itu, memamerkan emotikon "love", "kiss", atau, "hug"
Kita hanya perlu duduk berdua, saling bertatap, membicarakan sesuatu yang tidak penting tapi membahagiakan.
Aku perlu kamu untuk selalu disampingku, bukan menunggah sesuatu kebersamaan dengan caption romantis.
Aku tidak ingin diucapkan "happy anniversarry" tiap bulan. Aku ingin jadi seseorang yang bisa bersamamu tiap tahun. Merayakan bersamamu tahunan, bukan bulanan. Untuk apa menuliskan nama di bio sosmed? Apa tidak cukup aku menuliskan namamu dalam setiap doaku(?)
Hubungan ini milik kita bukan mereka. Terserah jika mereka menganggap kita ini ndeso, norak, atau tidak kekinian.
Bahagia itu kita yang ciptain bukan mereka. Hidup kita bukan untuk membuat mereka bahagia.
Hai.
Seseorang yang bersinar, yang nyata, yang bukan lagi untuk dikhayalkan.
Izinkan aku buat mengatakan dua kalimat ini.
Aku menyayangimu.
Semoga harimu selalu menyenangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar