Malam sudah terlalu larut dan aku masih saja terbaring dikasur memikirkan segala sesuatu yang sudah terjadi.
Aku terlambat menyadari, mungkin saja ini drama belaka. Atau mungkin saja sesungguhnya kamu itu tidak benar benar cinta. Mungkin saja kata cintamu itu palsu semata. Hmm. Aku terlalu melibatkan perasaan, memberikan segala yang bisa ku berikan, berkorban apapun yang bisa kulakukan. Namun, sayangnya segalanya tidak pernah cukup, tidak akan pernah cukup. Setiap tuntutanmu yang justru aku jalani dengan baik dan segala keinginanmu yang justru telah aku wujudkan, semua itu justru membuatmu berbelok ke perempuan lain.
Kamu mungkin tidak paham, kekuatan cinta selalu berhasil membahagiakan siapapun, juga selalu berhasil menyakiti kapanpun. Aku terbuai pada cinta yang kau bisikan ke telingaku, pada rindu yang selalu kau katakan dalam setiap percakapan kita, sayangnya itu tak bertahan lama karena-- dengan sekejap kamu merubah segalanya, dari nyata menjadi semu semata.
Kamu menguburkan pandanganku tentang cinta. Kamu mengubah duniaku yang sudah berwarna kembali menjadi abu abu lagi. Kamu membirukan segalanya, mengubah setiap candu jadi luka baru. Hatiku lebam-lebam, sementara kamu tidak peduli pada kondisiku yang kesakitan.
Tidak bisakah waktu diputar ulang kembali? Saat aku dan kamu masih saling mencintai. Aku hanya masih tidak percaya, secepat ini kamu mengakhiri semua, seakan aku bukanlah sosok penting yang patut diperjuangkan. Aku bahkan seakan tidak berhak untuk dibahagiakan. Segalanya masih sama dan begitu hampa. Menyadari bahwa kamu tak ikut terluka, membuatku terus bertanya-tanya. Jika dari awal tak didasari cinta, mengapa kau begitu berani untuk berkata cinta? Jika dari awal memang dalam hatimu tidak pernah ada perasaan sayang, mengapa kamu memanggilku dengan panggilan sayang? Jika selama ini aku hanyalah pemain pendukung dalam drama kehidupanmu, mengapa seakan kau libatkan aku begitu jauh dalam dramamu?
Kamu tau, sayang?
Tidak ada yang lebih menyakitkan, daripada berjalan terlalu jauh lalu berhenti ditengah jalan, sebelum kita berdua sampai ditujuan. Kau melakukan hal yang sangat menyakitkan, menduakan aku dengan tidak lain dan tidak bukan, mantanmu lagi.
Setelah sudah lama beraama, kau baru mengatakan yang sebenarnya jika selama ini kau selalu berkomunikasi dengannya, diam diam. Bahkan parahnya kamu masih menyimpan perasaan kepadanya. Kau melakukannya seenak jidat tanpa mengetahui apa yang aku rasakan. Begitu saja. Seakan kita tidak pernah memulai segalanya. Seakan aku bukan siapa siapa. Seakan aku hanya mainanmu saja.
Kugantungkan harapanku padamu. Ku berikan sepenuhnya perhatianku untukmu. Sayangnya, semua hal itu seakan tak kau gubris. Kamu disampingku, tapi getaran yang kuciptakan seakan tak benar benar kau rasakan. Kamu berada didekatku, namun segala perhatianku seperti menguap tak berbekas. Apakah kamu benar tidak memikirkan aku?
Hei. Jika aku bisa meminta langsung pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita terjadi. Aku tak ingin mendengar suaramu ketika menyebutkan nama. Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis. Sungguh, aku tak ingin segala hal manis itu terjadi jika pada akhirnya kamu menghempaskan aku sekeji ini.
Kalau kau ingin tau bagaimana perasaanku, seluruh kosa kata dalam milyaran bahasa pun tak mampu mendeskripsikan. Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti. Perasaan adalah ruang paling dalam yang tak bisa tersentuh hanya dengan perkataan dan bualan. Aku lelah. Itulah perasaanku. Kau sudah paham? Belum. Tentu saja. Apa pedulimu padaku? Aku tak pernah ada dalam matamu, aku selalu tak punya tempat dalam hatimu. Seandainya kamu bisa membaca perasaanku dan bisa mengetahui isi otakku, mungkin hatimu yang beku akan segera mencair. Aku sendiri tak tau salahku apa hingga kita tiba tiba terhempas dari dunia mimpi ke dunia nyata. Tak penasarankah kamu pada nasib yang membiarkan kita kedinginan seorang diri tanpa teman dan kekasih?
Setiap hari, setiap waktu, setiap aku melihatmu dengannya; aku selalu berusaha menganggap semua baik baik saja. Semua akan berakhir seiring berjalannya waktu. Aku membayangkan perasaanku yang suatu saat nanti pasti akan hilang. Aku memimpikan lukaku akan segera kering sehingga tak ada lagi hal hal penyebab aku menangis tiap malam.
Namun..
Sampai kapan aku harus mencoba?
--
Jika kau anggap hubungan kita hanyalah permainan yang segera berakhir, mengapa justru aku yang jadi korban dalam setiap permainanmu? Bukan kamu.
--
Jika kau anggap hubungan kita hanyalah permainan, salahkah aku yang terlalu serius serius, terlalu melibatkan perasaan, dalam permainan ini?
Love,
Hayati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar